Nekat Traveling – 3D2N Jakarta – Magelang – Jogja

Sudah lama enggak nulis nih, sekarang mumpung lagi mood (hehehe) mau cerita tentang pengalaman traveling 3 hari 2 malam ke Magelang dan Jogja. Judulnya apa ya?

“Nekat Traveling” aja kali ya? Iyaa… Nekat melakukan traveling hehehe

Jadi sejak awal bulan Februari lalu, gue sama salah satu temen gue udah gatel banget kepengen jalan-jalan. Tapi kita bingung mau jalan ke mana. Awalnya sempet kepengen pergi ke Pulau Pahawang dan ikut salah satu open trip yang ada di Instagram. Eh tapi kok galau, enggak jadi deh. Terus kepikiran buat ke Bandung (belum pernah ke Bandung sama sekali soalnya hehe), udah cek-cek harga tiket kereta, cek harga penginapan, cek objek wisata yang gampang terjangkau.

Tiba-tiba, iseng ngecek harga tiket kereta ke Jogja, ya, Jogja. Ternyata harganya gak beda jauh sama ke Bandung (ya lumayan sih, 90rb ke 140rb). Tapi dengan beda harga segitu lu bisa jalan-jalan lebih jauh, pikir gue saat itu. Akhirnya gue usulin ke temen gue itu, fix lah kita berdua ke Jogja. Iya, berdua doang. Sebenernya kita temenan bertiga, cuma yang satu ini baru banget masuk kerja dan enggak enak juga kalo mesti ijin cuma buat liburan aja. Akhirnya kita pergi berdua aja.

Mulailah cari tiket kereta untuk pemberangkatan tanggal 10 April (cari kereta yang paling malam, karena siangnya kita masih kerja). Dapatlah kereta dengan harga Rp140.000,-, Kereta Progo tujuan Pasar Senen – Lempuyangan, berangkat pukul 22.20. Ini adalah pengalaman pertama gue sama temen gue ini naik kereta jauh, walaupun sebelumnya gue pernah sih, tapi cuma sampe Sukabumi *ini mah deket yaa*

Karena enggak tau situasi Stasiun Pasar Senen untuk keberangkatan kereta jarak jauh, akhirnya kami janjian ketemuan di stasiun sekitar pukul 20.30. Gue sampe di sana duluan, gue langsung nyari mesin buat cetak boarding pass. Soalnya banyak ngeliat ulasan di Google kalo antrian suka panjang dan mesinnya sedikit. Tapi alhamdulillah, pas sampai di sana masih belum terlalu rame dan langsung nyetak aja.

FYI, cara cetak boarding pass itu tinggal masukin kode booking-nya aja ya. Kalo bener, nanti langsung keluar nama pemesan dan tinggal pilih “cetak” aja.

Setelah cetak boarding pass, masih belom bisa masuk ke ruang tunggu peron karena sesuai giliran kereta yang datang terlebih dulu. Baru bisa masuk sekitar 30 menit sebelum jadwal keberangkatan. Begitu masuk diperiksa boarding pass dan identitas (bisa KTP atau SIM). Pas kereta dateng, gue sama temen gue sengaja gak langsung masuk, pikir kami tuh “gak berebut tempat duduk ini, santai aja masuknya”. TAPI ADA YANG LEBIH PARAH DARI ITU! Kami ternyata satu gerbong dengan orang-orang yang agak menyebalkan. Begitu masuk, tempat tas di atas kursi kami udah penuh dengan barang2 dan setelah turun kami baru tau kalo barang-barang itu milik penumpang yang jarak kursinya 3-4 baris di belakang kami. Mereka naro barang bukan di tempatnya (mungkin tempat mereka juga udah ditempatin sama orang lain duluan). Akhirnya, gue sama temen gue naro tas di kolong kursi dan satu lagi dipangku.

Oh iya, buat kalian yang baru pertama kali naik kereta jarak jauh, sebaiknya cek dulu nama kereta yang kalian pesen. Liat kondisi dalam keretanya, bisa via Youtube. Kalo gue kemaren karena ngincer pemberangkatan paling malem dan milih kereta Progo. Menurut kami sih kurang nyaman (ya namanya juga ekonomi), jarak antara kursi lu dengan depan lu terlalu dekat. Jadi ini sangat tidak direkomendasikan untuk kalian yang bertubuh tinggi, karena bakalan mentok sama sebrang kalian (hadap-hadapan).

Singkat cerita, kami sampai di Stasiun Lempuyangan jam 7 kurang. Sebelumnya kami udah nyewa motor untuk mempermudah mobilitas kami selama di Jogja, dapat info dari teman yang tinggal di sana. Dapatlah kami sewa motor Beat 60rb/hari dan gratis antar jemput di sekitar stasiun (maksudnya motor diantar dan dijemput lagi di sekitar stasiun). Begitu sampai, kami langsung bertemu dengan pihak rental motor, membayar uang sewa, dan menyerahkan dokumen untuk jaminan. Seharusnya ada 3 dokumen untuk jaminan, misal e-KTP, SIM A, Kartu NPWP dll, tapi karena teman kami kenal dengan pihak rental, jadi cukup e-KTP aja sebagai jaminan.

Karena peraturan untuk check-in penginapan adalah jam 2 siang, kami memutuskan buat pergi ke Magelang dulu, ke rumah mbah gue. Ya, kami hanya bermodalkan Google Maps selama di Jogja. Sebelumnya emang udah pernah ke sana, tapi sama sekali enggak inget jalanannya. Perjalanan dimulai, menyusuri jalanan Jogja – Magelang, kalau di Maps sih waktu tempuhnya kurang lebih 1 jam 3 menit. Tapi kami menempuh perjalanan sekitar 1 jam 15 menit karena harus berhenti untuk mengisi bensin dan mencari-cari alamat ketika titik di Maps sudah berhenti.

Screenshot_3

Sesampainya di sana, kami beristirahat sebentar, menumpang mandi dan sarapan, lalu kami diantarkan sama teman dari om gue yang tinggal di sana buat ke Candi Borobudur. Jadi temennya om gue ini bekerja sebagai petugas keamanan (katanya sih kepala keamanan) di lingkungan Candi Borobudur. Kami diantar lewat pintu masuk karyawan, parkir pun di parkiran karyawan (masuknya jadi gratis hehe). Tiket masuk ke Borobudur sekitar Rp40.000,- dan kami hemat Rp80.000,- hehehe

Screenshot_1

Sumber: Borobudur

Beruntung ketika kami ke sana, tidak terlalu banyak pengunjung yang datang. Ada beberapa rombongan dari sekolah di Jakarta, tapi tidak lama setelah kami sampai, rombongan mereka pulang. Kami mengabadikan beberapa momen saat berada di sana, sayangnya temen gue lupa buat bawa tongsis dan kami foto seadanya.

FYI buat kalian yang mau ke Borobudur, jangan lupa untuk membawa minum. Karena di sana lokasi penjual minuman lumayan jauh dari candi. Dan saat kami ke sana, cuaca lagi terik-teriknya. Kami tidak terlalu lama di sana, sekitar pukul 13.00 kami memutuskan untuk pulang ke rumah mbah. Awalnya kami ingin mampir ke Gereja Ayam yang lagi hits banget, cuma karena itu tengah hari bolong dan kami kurang tidur pas di kereta. Kami memutuskan buat enggak jadi ke sana dan pulang buat tidur. Perjalanan pulang gak semulus pas berangkat, kami dibikin nyasar sama Google Maps. Karna udah pusing banget, panas terik dan nyasar, akhirnya kami berhenti sebentar ke kedai es di pinggir jalan buat istirahat.

Sekitar jam 4 sore kami memutuskan buat segera balik ke Jogja, karena udah mendung juga waktu itu. Perjalanan menuju penginapan kurang lebih 1,5 jam, karena bertepatan dengan  jam pulang kerja dan jalanan cukup ramai saat itu. Ditambah lagi di dalam Kota Jogja yang beberapa jalanannya memberlakukan satu arah, jadi harus memutar cukup jauh.

Sesampainya di penginapan, kami langsung berberes barang bawaan, mandi dan istirahat sebentar. Selepas Isya, kami pergi untuk menemui teman gue yang tinggal di Jogja, yang tadi udah sedikit diceritain. Kami makan malam di “House of Raminten”, enggak jauh dari penginapan kami. House of Raminten ini buka 24 jam, dan mempunyai ciri khas tersendiri dari penampilannya. Begitu lewat di depannya pun sudah tercium aroma therapy yang sedikit mirip sama bau kemenyan (?). Entahlah, pokoknya di sana di setiap sudut-sudut ruang dipasang semacam lilin aroma therapy. Pelayannya juga menggunakan seragam yang unik, baju kemben dan rok jarik. Menu makanan dan minumannya beragam dan harganya cukup terjangkau.

Setelah selesai makan, kami bertiga lanjut untuk berjalan-jalan di sekitar Malioboro (titik 0 KM) dan di Alun-alun Selatan untuk melihat pengunjung yang ramai-ramai berusaha untuk melewati kedua pohon beringin dengan mata tertutup. Di sepanjang Jalan Malioboro disediakan dua tempat parkir, salah satunya ada di depan Pintu Masuk Benteng Vredeburg.

Setelah puas menjelajahi Jogja malam hari, kami kembali ke penginapan dan beristirahat untuk perjalanan esok. Rencananya kami akan pergi ke pantai di sekitar Gunung Kidul, jaraknya cukup jauh dari penginapan. Kurang lebih 2,5 jam perjalanan, 68 KM. Buat kalian yang mau jalan-jalan ke pantai di Gunung Kidul, ada baiknya isi bensin kendaraan full tank, karena di sana jarang banget pom bensin. Gue sama temen gue perjalanan dari penginapan masih ada bensin setengah lebih, karena dipikir nanti sepanjang perjalanan akan ada pom bensin, kita santai. Setelah sampe di jalanan berkelok-kelok (pegunungan) bensin udah bener-bener tiris dan gak ada tanda-tanda pom bensin dan penjual eceran. Kami mulai panik, sampe di suatu jalan ada penjual bensin eceran (Pertamini).

Karena udah kebablasan, gue muter balik dan langsung isi full tank, gak mau ambil resiko motor mati di tengah jalan. Dan bener aja, setelah Pertamini itu hampir enggak ada penjual bensin lagi. Jadi ini pelajaran berharga banget, pastiin bensin kalian full, jangan sampe habis di tengah-tengah perjalanan.

Wahiya, perjalanan menuju pantai itu ngelewatin pegunungan gitu, jadi jalanannya berkelok-kelok, naik-turun, banyak tanjakan dan turunan yang cukup tajam. Kalian juga harus hati-hati, karena selama perjalanan sering papasan dengan truk barang. Gak jarang kami berjalan di belakang truk itu, harus jaga jarak atau sebaiknya mendahului.

Di tengah-tengah perjalanan, ada bukit bunga matahari yang dikhususkan sebagai spot foto selfie oleh warga sekitar. Kami memutuskan untuk mampir sebentar sambil melepas lelah. Oh iya, untuk selfie di spot-spot yang sudah disediakan, kalian akan dipungut biaya, seikhlasnya. Di dekat tempat selfie itu akan ada kardus atau kotak uang yang harus kalian isi (diawasi sama ibu-ibu penjaganya hehe).

photo_2018-04-28_09-41-44

Setelah melalui perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya kami tiba di Pantai Indrayanti. Ya, kami sengaja ke pantai yang paling jauh terlebih dulu, biar nanti pas pulang bisa sekalian menghampiri pantai-pantai yang lain. Oh iya, sebelum memasuki kawasan pantai, kalian akan melewati pos penjaga yang meminta retribusi masuk. Kami berdua dikenakan biaya Rp20.000,- dan setelah itu kalian bebas mau masuk ke pantai mana saja. Hanya perlu membayar parkir kendaraan sekitar Rp2.000-Rp3.000 / tempat, berbeda-beda satu sama lain.

Screenshot_4

Beruntung ketika kami ke sana, sedang bukan akhir pekan. Jadi kondisi pantai lengang, bisa dibilang sepi malah. Seperti pantai milik pribadi hehehe. Berikut beberapa foto saat kami sedang di Pantai Indrayanti .

photo_2018-04-28_09-41-50

Foto panorama yang diambil dari gubuk-gubuk di pinggir pantai, beruntung sekali saat kami ke sana sedang sepi, jadi kami bisa mendapatkan hasil foto yang bagus seperti ini.

Setelah puas menikmati pemandangan di Pantai Indrayanti, kami lanjut untuk makan siang di sebrang jalan. Sebenarnya ini sarapan yang digabung dengan makan siang, awalnya pas berangkat kami ingin sekalian mencari sarapan, tapi tidak jadi. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau untuk jenis seafood. Kami makan berdua, paket nasi + udang bakar dan paket nasi + cumi bakar, 2 botol air mineral, dan dua gelas soda susu totalnya Rp94.000,-

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Krakal, di pantai ini ada 2 spot yang cukup bagus. Yang satu agak ramai oleh pengunjung, sehingga kami sedikit berjalan (enggak deng, naik motor) agak ke dalam lagi. Dan inilah surganya, pantai yang sepi seperti pantai pribadi hehe

photo_2018-04-28_09-58-26

Ini spot pertama yang sedikit ramai pengunjung (biarpun pas di foto enggak begitu keliatan hehe) Lalu kami bergeser ke spot yang lainnya

photo_2018-04-28_09-58-33

Bagus banget yaa

Awalnya kami bisa tidur-tiduran di pasir karena pas banget dapet spot asik di bawah pohon, tapi kami langsung pindah dan pergi setelah ada orang gila tanpa busana yang tiba-tiba lewat di depan kami. Sumpah kami kaget dan langsung bangun terus lanjut pergi ke pantai selanjutnya.

Enggak jauh dari Pantai Krakal, ada Pantai Kukup. Pantai ini bagus banget kalo dilihat dari atas tebing. Ombaknya keren banget

Sayang banget enggak bisa upload video-nya ke sini, padahal itu bagus banget. Buat kalian yang mau jalan-jalan ke sini, sumpah, mending jangan pas weekend, jadi biar dapet foto-foto bagus tanpa ada background orang lalu lalang hehehe

Setelah dari Pantai Kukup, kami memutuskan untuk pulang ke penginapan. Karena malamnya kami masih punya satu tujuan wisata lagi. Tapi kami enggak langsung pulang ke penginapan, kami mampir dulu ke kedai es yang lagi viral di Instagram. Ya, Ais Kepal Milo. Bermodalkan Google Maps, kami langsung mencari kedai Ais Kepal Milo. Sesampainya di sana, rame banget. Karena kedai ini gabung dengan kedai Mie Ayam, jadi pengunjungnya cukup ramai. Kami langsung pesan varian yang All Topping (kecuali oreo) seharga Rp13.500,-. Cukup mahal sih untuk ukuran es dengan topping yang enggak begitu banyak, tapi namanya juga penasaran.

photo_2018-04-28_10-13-14

Inilah penampakan Ais Kepal Milo, rasanya ya kayak Es dikasih Milo kental. Tapi agak susah makannya karena es yang tadinya udah diserut terus dikepelin lagi, baru dikasih topping. Esnya langsung mengeras lagi dan susah dimakan (ya namanya juga es kepal, bukan es serut hehe)

Setelah beli Ais Kepal Milo, kami langsung pulang ke penginapan, bersih-bersih, istirahat, sholat dll. Malamnya, abis Isya, kami lanjut pergi ke Taman Pelangi yang letaknya di Monumen Jogja Kembali. Harga tiket masuk untuk satu orang adalah Rp15.000,-. Di sana terdapat banyak spot foto dari lampion-lampion yang bagus untuk berfoto-foto.

Setelah pulang dari Taman Pelangi, kami jalan-jalan ke sekitar Malioboro untuk mencari makan malam dan belanja souvenir. Kami pulang ke penginapan sekitar jam 11 malam, berjalan-jalan malam di Jogja sangat tidak terasa, rasanya belum puas tapi sudah malam.

Keesokan paginya kami berburu pesanan oleh-oleh dari teman-teman kami sekaligus mencari sarapan. Kami pergi ke Pasar Pathuk dan di sana ada sentra oleh-oleh Bakpia Pathuk 25, kesukaankuuuuuuuuu… Setelah membeli Bakpia Pathuk 25, kami lanjut untuk mencari Mamahke, kue artis kekinian. Setelah itu kami mencari Bakpia Kurniasari, lokasinya lumayan jauh dibanding dengan yang lainnya. Selesai membeli oleh-oleh, kami melanjutkan packing untuk bersiap-siap pulang. Karena waktu check-out penginapan yang mengharuskan jam 12 siang, akhirnya kami menitipkan barang-barang kami terlebih dulu, dan kami melanjutkan jalan-jalan tanpa tujuan hehe

Kami makan siang di McDonalds yang tidak jauh dari penginapan, karena menyadari waktu untuk menunggu kereta pulang kami masih lama, kami memutuskan untuk masuk ke Museum Benteng Vredeburg di Jalan Malioboro. Setelah dari sana, kami bingung ingin ke mana lagi, kami langsung browsing  tempat nongkrong hits di Jogja.

Akhirnya kami memutuskan untuk ke Tom’s Milk, tempat nongkrong yang minumannya didominasi oleh susu. Kami di sana sekitar 1,5 jam.

Setelah dari Tom’s Milk, kami pergi ke toko aksesoris tak jauh dari kantor Gubernur DIY. Setelah itu kami kembali ke penginapan untuk mengambil barang-barang dan lanjut ke stasiun untuk menunggu kereta. Saat pulang, kami naik kereta Jaka Tingkir. Kereta ini lebih nyaman dibanding dengan kereta saat kami berangkat. Jarak antara kursi dengan depannya cukup longgar. Kereta Jaka Tingkir berangkat sekitar jam 18.55 dari Stasiun Lempuyangan dan tiba di Stasiun Pasar Senen sekitar pukul 04.00 pagi.

Demikian pengalaman Nekat Traveling dari gue, di bawah gue akan melampirkan rincian biaya yang gue keluarkan selama di sana. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.

 

Screenshot_1

Screenshot_2

Jadi perorang dari tiket kereta, penginapan sampai jajan keseluruhan kurang lebih sekitar Rp310.000 + Rp140.000 + Rp225.500 = Rp675.000

*Rincian di atas di luar dari belanja oleh-oleh.

Screenshot_3

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s