Kamu

Aku…

Sudah terlalu merasa nyaman denganmu, sampai aku pun lupa akan suatu hal yang teramat penting.

Kamu bukan siapa-siapaku 😊

Awalnya kamu datang tanpa pernah diduga, mengalir begitu saja, tak pernah kusangka sebelumnya.

Hingga akhirnya kamu pun menghilang begitu saja, awalnya kumerasa sangat kehilangan. Tapi aku kembali berpikir,

“Siapa aku ini? Kenapa harus merasa kehilanganmu sampai sedalam ini?”

Perlahan kumulai bisa menata ulang hatiku yang sempat porak-poranda setelah ditinggal begitu saja olehmu.

Aku kembali menjalani hidupku selayaknya sebelum aku mengenalmu.

Asal kamu tahu, dalam setiap doaku selalu memanjatkan satu hal dan selalu kuulang.

“Jika kamu memang yang terbaik untukku, semoga Allah SWT melancarkan jalanku denganmu. Semoga kau semakin didekatkan denganku apapun itu bentuknya. Namun jika kamu bukanlah yang terbaik, aku memohon agar segera dijauhkan denganmu”.

Kepergianmu kala itu kuanggap sebagai jawaban atas doaku, ya, berarti kamu bukan yang terbaik untukku.

Mungkin saja aku yang terlalu terbawa perasaan, padahal kau tidak ada maksud lebih~ Aku tak mau mengatakan bahwa aku sebagai korban PHP-mu, karena ini salahku. Salahku yang terlalu berharap banyak darimu, masalah perasaan adalah urusanku pribadi, seutuhnya di bawah kendaliku. Tak ada sangkut pautnya denganmu.

Ya, tidak ada yang namanya korban atau pelaku PHP. Yang ada hanya salah satu pihak yang berharap lebih kepada pihak lainnya, dan mungkin itu aku.

Setelah kumulai kembali terbiasa menjalani hidup tanpamu (lagi), menata kembali hati yang rapuh ini, sebuah sapaan darimu membuat perasaanku semakin tak karuan. Iya, aku bukan orang yang pandai menyembuhkan luka hati dengan cepat 😊

Awalnya kutanggapi dengan seadanya, aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, yaitu terlalu berharap denganmu. Mula-mula kamu tidak terlalu intens menghubungiku, ya, karena aku membalas chat-mu seadanya.

Lama kelamaan, aku dan kamu kembali intens berhubungan (berkomunikasi, maksudku) seperti sebelumnya. Namun untuk saat ini, aku sedikit melihat perubahan darimu, entah apa itu. Aku merasa ada yang lain dari kamu yang sekarang.

Tapi untuk yang sekarang, aku tak mau menduga-duga sesuatu yang belum tentu. Ya, tentang perasaanmu yang sebenarnya aku sendiri tak mengetahui arahnya kemana. Apa maksud dari perlakuanmu selama ini, aku hanya menjalaninya saja, mengikuti kemana alurnya berjalan. Kalau kau ingin lanjut, aku pun lanjut. Kalau kau ingin berhenti, aku tak bisa menghalanginya.

Kalau tidak salah hitung, hingga saat ini, aku dan kamu sudah menjalin komunikasi selama hampir 5 bulan. Tak terasa~

Kamu, yang dulunya kukenal sebagai teman SMP-ku (walaupun tak pernah sekalipun sekelas atau mengobrol kala itu), aku hanya tau namamu dan (mungkin) begitu sebaliknya.

Siapa kira aku dan kamu bakal sedekat ini? Eh, ini dekat atau tidak ya? Atau hanya aku saja yang merasa kegeeran? Haha~

Bagaimana aku dan kamu (aku tak berani menyebutnya sebagai “kita”) nanti, biarlah menjadi misteri dari yang Maha Kuasa, Sang Pembolak-balik hati manusia. Aku hanya bisa berdoa, semoga selalu baik-baik saja. Kalaupun tak bisa bersatu, semoga tidak lantas membuat aku dan kamu menjauh seolah tak saling kenal 😊

Depok, 3 Februari 2018

Ruli Khoiriyah N

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s