Apa Enaknya Pacaran dengan Sahabat Sendiri?

Banyak yang bilang, berpacaran dengan sahabat sendiri adalah hal yang mengasyikan. Tapi mengapa tidak denganku?

Aku pernah terjebak dalam situasi pertemanan, yang mana temanku berpacaran dengan temanku yang lain. Ketika Mereka masih bersama, semua berjalan dengan baik-baik saja. Sampai suatu ketika, Mereka berpisah.

Setelah perpisahan itu, situasi pertemanan Kami sedikit berbeda. Saat ingin berkumpul, jika ada si Perempuan, si Laki-laki tidak datang. Begitu pula sebaliknya. Walaupun itu tidak berlangsung lama, akan tetapi suasana pertemanan Kami sudah terasa lain dari sebelumnya.

Aku memiliki seorang teman dekat laki-laki, dekat sekali. Sampai teman-temanku lainnya mengira Kami berpacaran. Begitu pula dengan temanku yang tidak terlalu dekat, mengira Kami pernah berpacaran.

Padahal tidak~

Kami berteman sejak awal masuk SMA. Dulu waktu kelas 1 SMA, aku memiliki 2 geng. Geng yang isinya teman-teman perempuan, dan geng yang isinya gabungan dengan teman laki-laki. Salah satunya adalah Dia. Aku menjadi lebih dekat dengan Dia karena Kami berada pada 1 ekstrakurikuler yang sama, Voli. Sampai saat ini, Kami berteman dekat sudah sekitar 8 tahun, tidak terasa 🙂

Memang sejak SD, Aku menyukai olahraga voli. Beberapa kali pernah mengikuti perlombaan, dan saat masuk SMA ternyata ada ekskul voli, Aku tak berpikir panjang lagi. Aku langsung bergabung, dan ternyata temanku itu juga ikut ekskul yang sama.

Kedekatan Kami berlangsung di dalam kelas, di ekskul, dan di luar sekolah. Kami sering jalan bersama, ya, namanya juga teman.

Dulu statusnya Aku masih memiliki pacar, Dia pun demikian. Pacarku sempat kurang suka saat Aku terlalu dekat dengannya, malah sempat memberiku pilihan untuk menjauhi temanku itu atau berpisah darinya.

Bagiku ini pilihan yang sulit, namun Aku berhasil meyakinkannya kalau hubungan Kami hanya sebatas pertemanan. Dia menerimanya, tapi dengan catatan tidak boleh terlalu dekat. Oke, Aku mengikuti maunya.

Singkat cerita, Aku putus dengan pacarku itu setelah menjalin hubungan sekitar 4 tahun (kurang seminggu). Iya, tepat 7 hari sebelum Kami anniversary ke 4 tahun, Kami putus. 

Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat itu, tentu Kalian sudah mengetahui jawabannya. Mungkin ada yang bertanya, kenapa bisa putus setelah pacaran selama itu?

Jawabannya, tidak ada orang yang menginginkan perpisahan dalam hubungannya. Namun apabila ada salah satu pihak yang perasaannya sudah terbagi dengan yang lain, apa masih layak suatu hubungan itu untuk dipertahankan?

Iya… Dia mengkhianati hubungan yang telah Kami jalani selama 4 tahun itu.

Saat Aku menceritakan ini dengan teman yang tak begitu dekat denganku, Dia mengatakan

“Kenapa gak lo pertahanin aja? Sayang itu udah 4 tahun, jangan mau ngalah sama perempuan perusak hubungan. Nanti dia kesenengan dan ngerasa menang.”

Jawabanku,

Untuk apa mempertahankan seseorang yang perasaan dan pikirannya sudah terbagi 2? Kalaupun Ia kembali, perasaan dan pikirannya sudah tidak utuh lagi untukku. Bisa jadi 50:50 atau bahkan lebih sedikit dari itu”.

Aku tak ingin mempertahankan hubungan atas dasar kuantitas, tetapi sudah tidak ada kualitas di dalamnya. Jadi Aku lebih baik melepaskan, seperti yang pernah Ku tulis dalam sajak yang berjudul “Melepaskan”. di sini

Mempertahankan seseorang yang sudah tak ingin tinggal adalah suatu bentuk ‘pengekangan’ bagiku”. 

Namun untuk teman-teman dekatku sudah paham mengenai hal ini, Mereka hanya menguatkan agar Aku tidak terlarut-larut dalam kesedihan. Meskipun sulit ehee~

Sudah cukup membahas tentang kenanganku bersama mantanku itu, masih terasa sakit apabila diingat kembali.

Tak lama setelah Aku putus dengan mantanku itu, Teman dekatku itu menyatakan perasaannya padaku. Aku memang sudah merasa ada yang berbeda dengannya, perlakuannya padaku lain dari sebelumnya. Namun Aku tak mau menerka-nerka, Aku hanya menganggap Dia berlaku baik karena memang Kami teman dekat. 

Dia menyatakan ingin jadi pacarku, Aku terkejut. Awalnya Aku mengira Dia hanya bercanda, namun Dia meyakinkanku kalau saat itu sedang serius. 

Aku menceritakan ini dengan teman dekatku lainnya, Mereka pun tidak heran. Karena menurut Mereka, perlakuannya padaku dengan teman-teman perempuan yang lain memang terlihat sangat berbeda. Malah mereka mengatakan bahwa Aku yang kurang peka~

Sebenarnya bukan Aku kurang peka, hanya saja Aku tidak mau memiliki persepsi sendiri mengenai perasaannya padaku. Aku takut nanti akan mengganggu persahabatan Kami. Memang setelah Kuperhatikan lagi, perlakuannya terhadapku berbeda dengan yang Dia lakukan ke yang lain.

Asal Kalian tahu, Dia adalah tipe orang yang suka sekali bercanda. Apa saja dijadikan bahan bercandaan olehnya, bahkan terkadang suka terlalu kelewatan menurutku. Teman-teman lain yang tidak begitu dekat dengannya sering tersinggung atau marah ketika diledek olehnya, tapi tidak denganku~ Aku sudah paham betul sifatnya, ya walaupun sering Kuingatkan agar mengurangi “porsi” bercandanya. Namanya juga sudah bawaan, agak susah untuk diubah.

Oke, kembali ke permasalahan tadi.

Aku bingung, Aku tidak tahu harus bagaimana. Bahkan Aku sendiri tidak bisa membedakan perasaan suka, sayang dan takut kehilanganku terhadapnya. Jujur, Aku sangat takut kehilangan Dia. Namun Aku masih bingung, rasa takut kehilangan sebagai seorang sahabat atau sebagai seorang perempuan kepada laki-laki. 

Aku meminta waktu beberapa saat untuk memikirkan dan mempertimbangkan, dan sampai pada saatnya Aku menjawab.

Aku tidak bisa menjalin hubungan lebih dari seorang sahabat dengannya, Aku ingat kisah temanku dulu. Saat ini hubungannya cukup renggang. Aku berkali-kali meminta maaf, dan Dia bisa memahaminya. Kami sempat jaga jarak beberapa saat, dan ketika kumpul dengan teman-teman lain, Kami sempat merasa canggung.

Situasi ini pun terbaca oleh teman-teman lainnya, karena tidak biasanya Kami diem-dieman, sedikit komunikasi, dan duduk berjauhan. Teman Kami lainnya malah mengira bahwa Kami sudah putus, iya putus. Karena sebelumnya mereka mengira Kami berpacaran, padahal tidak. Lucu ya~

Setelah beberapa lama, hubungan Kami sudah membaik, sudah seperti semula

Alhamdulillah

Karena itu yang menjadi ketakutanku ketika Aku harus kehilangan sahabat terbaikku.

Banyak yang bilang kalau berpacaran dengan sahabat sendiri, enak. Karena Kita sudah mengetahui sifat-sifatnya, baik-buruknya, apa yang menjadi kesukaan-ketidaksukaannya. Namun tidak demikian bagiku.

Rasa sayang dan takut kehilanganku akan dirinya lebih besar dari itu. Aku takut suatu saat nanti dihadapkan pada situasi ketika Aku harus kehilangan Dia sebagai pacar, juga sahabatku. Aku nyaman dengan kondisi Kami yang seperti saat ini.

Jalan bareng, berdua, nonton film berdua, pergi ke suatu tempat berdua, main ke rumahnya, atau Dia main ke rumahku. Bagiku itu lebih dari cukup.

Tetapi, kalau suatu saat nanti Tuhan menakdirkan Kami untuk berjodoh. Aku tidak bisa menolaknya. Semoga kalau memang ditakdirkan untuk bersama, bukan untuk ikatan pacaran, karena itu terlalu besar risiko untuk berpisah dan kehilangan dirinya.

Proses Melupakan

Aku sudah berjalan sejauh ini, berjalan ke depan dan mulai meninggalkan segala tentangmu.

Bukan hal mudah untuk melakukan semua ini, semua butuh proses, dan terasa amat sulit. Dan asal Kamu tahu, Aku melalui semuanya dengan sangat tertatih.

Tidakkah Kamu mengetahui itu? Ah iya, Kurasa ini sudah tak penting bagimu. Sudahlah~

Tapi ingat satu pesanku! Jangan pernah kembali walau hanya sekedar ingin menyapa, Aku tak butuh itu! 

Melepaskan

Satu hal yang harus kamu ketahui.

Bukan Aku tak ingin menahanmu untuk tetap berada di sisi, tetapi Aku tak ingin menghalangi kebahagianmu di luar sana yang mungkin tak Kamu dapatkan dari Aku. 

Karena terkadang, mengikhlaskan jauh lebih baik dari pada harus terus ‘mengekang’. Mempertahankan seseorang yang sudah tak ingin tinggal adalah suatu bentuk ‘pengekangan’ bagiku.

Maka dari itu, Aku lebih memilih untuk melepaskanmu. Itulah pengorbanan yang sesungguhnya menurutku.

Spesialisasi dalam Perekrutan: Diskriminasi Tak Langsung

Pernah mendengar teori “Division of Labour”, karya dari Emile Durkheim? Salah satu tokoh dari Sosiologi Klasik. Durkheim membahas tentang solidaritas yang terdapat dalam masyarakat. Terdapat dua jenis solidaritas di dalam masyarakat, yaitu solidaritas mekanis dan organis. Simpelnya, solidaritas mekanis adalah ketika belum adanya spesialisasi tenaga kerja dalam masyarakat. Biasanya terjadi pada masyarakat tradisional, di pedesaan. Sedangkan solidaritas organis adalah ketika suatu pekerjaan sudah membutuhkan spesialisasi kemampuan, contohnya: dokter, pilot dan sebagainya.

mikey_burton_division_of_labor_7

Sumber: https://www.mikeyburton.com/division-of-labor/

Apakah dengan adanya spesialisasi dalam hal perekrutan karyawan mempermudah suatu pekerjaan?

Pada beberapa jenis pekerjaan yang telah disebutkan di atas, memang sangat memerlukan orang yang berkompeten di bidangnya. Karena tidak semua orang bisa melakoni pekerjaan dari bidang tersebut. Namun, untuk beberapa pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian khusus (background pendidikan khusus), apakah dengan adanya division of labour ini menjadi mempermudah?

Saya tidak mengatakan bahwa pekerjaan A lebih mudah dari pekerjaan B, atau sebaliknya. Akan tetapi, ada pekerjaan yang menurut Saya memang memerlukan skill atau background dari disiplin ilmu yang berkaitan dengannya, namun ada pula yang tidak.

Misal, seseorang dengan background pendidikan Management. Bukan berarti dia tidak memiliki kemampuan untuk menjadi penulis atau designer (desain grafis). Terkadang perusahaan merekrut karyawan berdasarkan background pendidikan ketimbang soft skill yang dimiliki oleh calon kandidat tersebut.

Meskipun tidak semua perusahaan menerapkan hal demikian, namun dengan cara demikian, menurut Saya sudah merupakan ‘diskriminasi’ secara tidak langsung. Karena meskipun dengan background pendidikan yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut, belum tentu skill yang dimilikinya lebih baik ketimbang yang bukan dari background pendidikan tersebut.