Terima kasih, 2017! Kau sangat berarti ūüėä

Mungkin sedikit terlambat untuk me-review nikmat yang Allah SWT berikan untukku selama tahun 2017.

Awal tahun, tepatnya tanggal 9 Januari 2017, Aku melaksanakan sidang skripsi yang sempat tertunda selama 1 semester karna satu dan lain hal. Hari itu, merupakan jadwal sidang skripsi pertama pada semester itu di jurusanku. Terdapat 6 orang yang akan melaksanakan sidang, dibagi menjadi 2 ruangan, masing-masing 3 orang peserta sidang.

Aku mendapat giliran kedua, cukup deg-degan dan yang pasti  nervous. Ya, bagaimana tidak nervous, pertama kalinya mempresentasikan hasil penelitian SENDIRI, dihadapan 1 dosen penguji, 2 dosen pembimbing, ketua dan sekretaris sidang. Semua sudah bercampur aduk di pikiran bakal seperti apa suasana ruang sidang.

Tapi alhamdulillah, semua bisa dilalui dengan cukup lancar. Tidak banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para penguji, hanya sedikit masukan untuk melengkapi hasil penelitianku. Huh…¬†Alhamdulillah, tidak semenakutkan yang sudah kubayangkan sebelumnya.

Ini adalah berkah di awal tahun 2017, Aku lulus menjadi Sarjana Sosial (S.Sos), lulusan prodi Sosiologi Pembangunan, Universitas Negeri Jakarta.

Setelah selesai sidang, Aku disibukkan oleh revisi dan pemberkasan-pemberkasan menjelang wisuda. Ditengah kesibukan itu, Aku sudah mulai menyebar CV dan lamaran kerja (berbekal surat keterangan lulus). Alhamdulillah, Allah SWT Maha Baik. Kalau tidak salah tanggal 9 Februari aku mendapat panggilan untuk interview di sebuah perusahaan startup, Politwika.com (ya, tempat saat ini kubekerja). Setelah interview, 2 hari kemudian training, dan 2 hari setelahnya, Senin, 13 Februari 2017, hari pertamaku bekerja.

Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah… Sebulan setelah kululus kuliah (belum resmi), Aku sudah mendapat pekerjaan. Aku banyak belajar hal baru di sana, teman-teman yang sebaya membuat suasana kerja menjadi sangat menyenangkan.

Pada tanggal 16 Maret 2017, Aku wisuda. Aku resmi menjadi seorang Sarjana Sosial, Ruli Khoiriyah Nurhasanah, S.Sos. Salah satu kewajibanku sebagai seorang anak sudah kubayar lunas dengan senyum bahagia yang terlihat di wajah kedua orang tuaku.

Sepanjang 2017, banyak sekali hal-hal baru yang kualami dalam hidup. Pada April, pertama kalinya Aku pergi traveling bersama teman kerjaku dengan menggunakan uang hasil kerjaku sendiri. Kami pergi ke Sukabumi, ke Danau Situgunung di Gunung Gede Pangrango. Perjalanan singkat dalam waktu satu hari, kami menyebutnya One Day Trip. 

Pada September lalu, kami kembali traveling bersama menyusuri pulau-pulau di sekitar Anak Gunung Krakatau (AGK), kami juga sempat naik ke puncak AGK. Perjalanan singkat kurang dari 3 hari, namun menyenangkan karena ku memperoleh keluarga baru, teman baru, sahabat baru dari trip tersebut. Padahal kami bersama +/- 2 hari saja, namun komunikasi kami masih terjalin hingga saat ini.

Pada November, aku sebagai tim baru di tempat kerjaku, diajak untuk berkontribusi dalam pembuatan sebuah buku yang bekerja sama dengan Kominfo yaitu “Buku Pengantar Tata Kelola Internet (ID-IGF)”. Dalam pembuatan buku ini, aku membantu rekanku untuk mewawancarai narasumber serta membuat transkrip wawancara yang dijadikan sebagai pengantar dalam buku tersebut. Ini pengalaman pertamaku untuk terlibat dalam penulisan buku seperti ini, semoga ini bukan yang terakhir ūüėä

Pada bulan November ini, tepatnya tanggal 24, aku berulang tahun yang ke-23. Usia yang sudah bisa dibilang cukup dewasa atau menuju ke arah dewasa, meskipun kedewasaan seseorang tidak hanya ditentukan oleh berapa usia mereka.

Banyak kenangan lain di 2017 yang tidak bisa kutuliskan satu-persatu. Dari pengalaman menyenangkan, menyedihkan, mendebarkan, menakutkan dan sebagainya. Namun, kuanggap itu semua sebagai bagian dari perjalanan hidup dan merupakan sebuah pembelajaran yang amat sangat berarti. Bagian sulit yang kualami, kuanggap sebagai ‘cambuk’ untuk bisa melalui tahapan kehidupan yang lebih baik lagi.

Mungkin sedikit terlambat untuk mengungkapkannya, akan tetapi better than never. Semoga di 2018 ini menjadi tahun yang lebih baik dari segala aspek kehidupanku ini, menjadi tahun pendewasaan (mengingat tahun 2018 ini aku akan berusia 24 tahun, rasanya sudah tidak cocok lagi disebut sebagai remaja), semoga kalau Allah SWT mengizinkan kumenemukan pasangan hidup (yang terakhir dan untuk selamanya), diberikan kesehatan dan murah rezeki untukku dan keluarga, serta harapan-harapan baik lainnya yang tidak bisa kusebutkan satu persatu.

2018, please be nice! ūüėä

Iklan

[Review] Insidious: The Last Key 

Insidious: The Last Key ini merupakan kelanjutan dari ketiga sekuel dari film Insidious yang pertama kali dirilis pada tahun 2011 lalu. Ini menjadi prekuel dari ketiga film sebelumnya.

Insidious: The Last Key ini menceritakan tentang kejadian beberapa tahun sebelum adanya tiga film sebelum ini. Ceritanya berfokus kepada masa kecil dari Elise (seorang paranormal) yang dulu tinggal di New Mexico. Kejadian di rumah masa kecil Elise inilah cikal bakal lahirnya teror-teror dari roh dan iblis yang mengganggu kehidupan Elise.

Suatu hari ada seseorang yang menelpon Elise untuk meminta bantuan, dan ternyata orang tersebut tinggal di rumah yang dulunya merupakan tempat tinggal Elise dan keluarga saat masih kecil. Jadi, Elise merasa bertanggung jawab dan akan membantu menyelesaikan masalah orang tersebut.

Karena film ini merupakan prekuel dari film-film sebelumnya, maka Elise masih menjadi tokoh utama dalam cerita ini.

Kalau untuk segi keseraman secara visual, film ini kurang menampakkannya. Saat menonton film ini, kita akan menebak-nebak kapan saatnya hantu akan muncul (beberapa kali salah tebak). Malah disaat yang tidak terduga, muncul sosok hantu yang cukup mengagetkan. Suasana seram dan mencekam terbangun karena suasana gelap yang tergambar pada rumah itu.

Beberapa kali terdapat beberapa jump scare yang cukup membuat kita berteriak karena muncul pada adegan yang tidak diduga-duga.

Suasana seram yang dibangun lewat kondisi yang gelap dan efek-efek suara yang ada, seketika luntur saat adegan kedua “asisten pemburu hantu” (Specs dan Tucker) yang menggombali wanita yang ternyata merupakan anak dari adik Elise (keponakannya). Meski gombalan yang mereka lakukan bisa terbilang cukup krik, sehingga mengurangi keseraman film ini. Bahkan tidak sedikit dari penonton yang tertawa melihat adegan tersebut.

Overall, film Insidious: The Last Key ini layak untuk ditonton. Dari segi seram (meskipun kurang mencekam), jump scare yang beberapa kali berhasil mengagetkan, sisi komedi (yang justru membuat keseraman sedikit memudar). Namun film ini recommended untuk ditonton untuk kalian yang penasaran bagaimana awal mula teror yang menimpa Elise selama ini.

Berikut adalah trailer dari film Insidious: The Last Key .

Rentang Kisah -@gitasav

cover-depan-Rentang-KisahBerawal dari menonton video-video dari channel Youtube @gitasav tentang kehidupan dan lika-liku proses perkuliahan di Jerman. Melihat video dengan segmen “beropini” yang disampaikan dengan amat santai, seperti sedang bercerita, tanpa terlihat ingin menggurui, akhirnya Aku memutuskan untuk menekan tombol subscribe.

Aku langsung menjelajahi seluruh video yang ada di channel Youtube-nya, segmen “Tentang Jerman” dan “Beropini” lah yang menjadi bagian favoritku. Meskipun cukup lama tinggal di negeri orang, namun Gita tetap up to date dengan permasalahan kekinian yang terjadi di Indonesia. Gita bersama Paulus (yang Gita sebut sebagai teman hidup), membahas permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi dengan sudut pandang mereka, cara pikir mereka, tetapi tidak sedikitpun terlihat menggurui.

Contoh, saat Gita membuat video beropini tentang salah satu publik figur di Indonesia yang tengah ramai diperbincangkan karena keputusannya untuk melepas kerudung, dibahasnya dengan santai, ringan dan sedikit menceritakan tentang pengalamannya sebelum berkerudung seperti saat ini. Sila cek di sini

Lalu, beberapa hari yang lalu Aku melihat video tentang How I feel about “Rentang Kisah”. Yaps, Gita Savitri Devi, telah mengeluarkan buku pertamanya yang berjudul “Rentang Kisah”. Waaaww, ditengah kesibukannya membuat vlog (dan dia ngedit videonya sendiri loh), meet and greet dan katanya Dia menulis buku ini berbarengan dengan menyusun skripsinya.

Setelah melihat video itu, muncullah rasa penasaran tentang apa isi dari buku itu. Dalam video itu juga, Gita bilang kalau ada yang bisa menyelesaikan membaca buku itu kurang dari 3 jam. Aku tidak percaya awalnya, memang seberapa “wah” kah isi dari buku ini sehingga ada yang rela langsung menghabiskan waktunya (selama 3 jam berturut-turut) untuk membacanya. Akhirnya, langsunglah Aku membelinya. Aku beli via online (tapi tenang, buku asli kok, bukan bajakan hehe).

Semalam sekitar jam 8 kurang, kurir datang mengantarkan paket berisi buku ini. Langsung kubuka dan kubaca, dan benar! Butuh waktu kurang dari 3 jam untuk menyelesaikan buku ini, bukan karena isinya yang itu-itu aja, tapi karena gaya penyampaian yang ada di buku itu sangatlah ringan. Seperti layaknya orang sedang bercerita, mengalir, seperti sedang mendengar orang bercerita secara langsung.

Dalam buku Rentang Kisah ini, menceritakan pengalaman Gita sejak masa-masa SMA yang masih menjadi seorang ‘pemberontak’. Gita melihat sosok ibunya layaknya “monster” yang menyeramkan, tapi seiring berjalannya waktu Ia pun menyadari maksud baik dari perlakuan ibunya selama ini.

Selain itu lika-liku sebelum Gita memutuskan untuk berangkat kuliah di Berlin, dilema yang dirasakan untuk melepas jurusan di PTN yang memang sudah menjadi incaranmu, karna merasa bahwa passion-mu berada di sana dan harus berjuang lagi untuk bisa keterima di Freie Universitat Berlin yang prosesnya lumayan panjang. Dan jika tidak lulus dari seleksi ini, konsekuensinya bukan hanya D.O. tetapi juga dideportasi ke negara asal.

Ternyata ada beberapa hal di dunia yang nggak bisa kita utak-atik, memang bukan kuasa kita. -@gitasav

Lalu, ada bagian yang menjadi favoritku, yaitu saat Gita menceritakan tentang Paulus. Awal mula pertemanannya, lika-liku menjalani hubungan, hingga saat Paulus memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Caranya menceritakan proses Paulus menjemput hidayah dalam hidupnya membuat hati jadi terenyuh (bukan bermaksud lebay, baca sendiri kalo gak percaya hehe). Sekuat apapun usaha kita memaksa seseorang untuk mengikuti apa yang menjadi kemauan kita, kalau Tuhan tidak mengetuk pintu hatinya, usaha itu akan sia-sia.

Yaps, itu yang terjadi dengan Gita dan Paulus. Ketika Gita berkeras hati ingin membuat Paulus untuk ‘menjemput’ hidayahnya, hati Paulus pun semakin keras menentang. Saat Gita mulai memasrahkannya kepada Allah SWT, perlahan hati Paulus melunak. Aaaakkkk….

Cukup bahas Gita dan Paulusnya, dari pada baper hehe

Meskipun sudah cukup lama menetap di Berlin, Jakarta tetap menjadi tempat yang Gita rindukan. Selama 7 tahun tinggal di Berlin, Gita baru 4 kali mudik. Ia melihat wajah baru Kota Jakarta, perubahan yang dirasa begitu kontras dengan beberapa tahun silam.

Jakarta selalu punya caranya sendiri untuk membuatku tetap jatuh cinta -@gitasav

Intinya, saat baca buku ini enggak seperti baca biografi seseorang yang serius dari awal sampe akhir. Ini memang menceritakan tentang perjalanan kehidupan seorang Gita Savitri Devi sejak SMA – kuliah di TU Berlin – hingga menjadi sosok yang kita lihat seperti saat ini. Seorang vlogger, bloggerinstagramer, ya pokoknya bisa dibilang sebagai seorang influencer yang sukses diusia muda. Berbagi pengalaman hidupnya (sampai bisa berada di titik seperti saat ini), semua butuh proses, tidak ada yang instant. Kayak yang kemarin sempet dibahas pada tulisan sebelum ini, Tidak ada lift menuju kesuksesan, semua yang ingin sukses harus berjuang menapaki satu persatu anak tangga kehidupan.

Semoga Gita tetap bisa menginspirasi generasi-generasi muda, terutama memanfaatkan teknologi agar bisa bermanfaat. Tidak untuk sekedar menye-menye saja di medsos, tapi juga bisa menghasilkan karya yang bermanfaat, minimal untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Kenapa manusia tidak pernah puas?

Kenapa manusia tidak pernah puas?

Misal, melihat orang lain bisa membeli ini-itu segala macam yang mereka punya dan kita tidak punya. Sedikit-banyaknya pasti tebersit rasa iri.

“Iihhh, masa dia bisa beli itu tapi gue enggak”

“Kok dia bisa ngelakuin itu, tapi gue kayaknya susah banget”¬†

Dan masih banyak lagi ungkapan rasa iri yang mungkin terlintas di benak kita saat melihat orang lain berada satu langkah di depan kita. Sebenarnya itu merupakan hal yang wajar, manusiawi (menurutku pribadi). Bahkan sampai ada istilah, “rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri”.

Muncul istilah atau pemikiran seperti itu tidak lain dan tidak bukan, karena kurangnya rasa bersyukur.

Kita hanya melihat yang baik-baik saja dari orang lain, ini memang bagus, kalau bisa membuat kita merasa termotivasi dan menjadi semakin giat bekerja keras agar bisa mencapai suatu tujuan tertentu. Tapi ini akan sangat tidak baik apabila membuat kita memiliki rasa iri dan dengki dengan apa yang orang lain miliki.

Padahal kita tidak mengetahui sebesar apa usaha mereka untuk mendapatkan apa yang telah mereka miliki saat ini, berapa kali mereka mengalami kegagalan, berapa kali mereka bangkit dari kegagalan sehingga bisa berhasil seperti saat ini.

Kita juga tidak mengetahui apa yang telah diambil oleh Tuhan sebelumnya darinya, sehingga digantikan dengan yang mereka miliki saat ini. Mereka bisa seperti apa yang bisa kita lihat saat ini karena mereka berjuang mati-matian, dan mungkin tidak mereka perlihatkan betapa berdarah-darahnya mereka berusaha. Kamu hanya melihat titik di mana mereka berhasil, dan berpikir bahwa mereka memperolehnya secara instan.

Tidak ada lift menuju kesuksesan, semua yang ingin sukses harus berjuang menapaki satu persatu anak tangga kehidupan. 

Kalau menurut pepatah Jawa, “hidup itu hanya sawang sinawang” – “hidup itu hanya melihat dan dilihat”. Iya, kita hanya melihat kehidupan orang lain dari sisi luarnya saja, tanpa mengetahui seberapa besar pengorbanan yang telah mereka lakukan. Jadi jangan mudah menyimpulkan hanya dari apa yang terlihat.

Lalu, jika kita baru memperoleh suatu pencapaian dalam hidup. Kita pasti sering mendengar orang lain berkata, “jangan cepat puas dengan apa yang sudah kamu miliki”. Tapi di sisi lain, ada juga ungkapan bahwa “manusia memang tidak pernah puas”. Bagaimana ini? Kita tidak diperbolehkan untuk cepat merasa puas, tapi kita juga dikatakan tidak pernah puas.

Mungkin maksudnya, agar manusia lebih bisa bersyukur dengan apa yang telah mereka miliki. Karena mungkin di luar sana, lebih banyak orang yang kurang beruntung dari kita.

Aku pun belum bisa secara konsisten mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, bahwa harus selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Yaa… Karena baru-baru ini pun Aku merasa iri dengan pencapaian yang orang lain dapatkan. Ini membuatku ‘kesal’, tapi rasa ‘kesal’ yang Kurasakan Kuubah menjadi sedikit semangat untuk lebih baik.

Aku mencoba untuk lebih menggali potensi yang ada pada diriku, yang selama ini mungkin juga Aku sendiri tidak mengetahuinya. Mempelajari hal-hal baru di luar kebiasaan yang dilakukan, mencoba melakukan sesuatu yang dulu pernah kulakukan namun kurang maksimal hasilnya.

Diawal tahun 2018 ini, banyak orang membuat resolusi tahun baru. Membuat daftar rencana apa yang ingin mereka lakukan selama setahun nanti, apa tujuan yang ingin mereka capai, dan hal-hal lain berkenaan dengan perbaikan diri. Namun resolusi tahun baruku adalah perbanyak rasa bersyukur, mengurangi rasa iri dengan pencapaian orang lain dan berusaha agar dapat setara atau bahkan lebih dari mereka dan menghabiskan “jatah” kegagalan dalam hidup ini sedini mungkin.

Intinya, masih banyak orang yang ingin berada di posisimu saat ini. Sedangkan kamu yang sudah mencapainya, masih merasa kurang dan selalu ingin lebih dan lebih. Apa susahnya bersyukur? 

Selamat Hari Ibu

Di lini masa, warganet sedang ramai mengucapkan “Selamat Hari Ibu”. Jujur, Aku bukan seorang anak yang sering menyampaikan rasa sayang ini secara langsung ke Ibuku.

Jarang sekali keluar kata2 puitis yang kuucapkan ke Ibu, bahkan hampir tidak pernah.

Tapi apakah rasa sayang seorang anak ke Ibunya hanya diukur dari kata2 puitis dan romantis yang Ia sampaikan? Kurasa tidak!

Aku lebih senang memperlihatkan rasa sayang dan takut kehilanganku ini dengan perbuatan, dengan membuatnya tersenyum, dengan membuatnya bahagia, meskipun sampai detik ini Aku belum mampu membahagiakannya dan belum bisa memberinya apa-apa.

Setidaknya Aku selalu berusaha untuk tidak membuatnya menangis atau bersedih karenaku, Aku selalu berusaha untuk menuruti apa kemauannya, meskipun belum semuanya bisa terpenuhi.

Tak perlu ucapan puitis diucapkan di medsos, karena Ibuku sendiri tak punya medsos. Ibu-ibu lain pun juga belum tentu semuanya bermain medsos dan melihat postingan anaknya tentang dirinya. Mengungkapkan kasih sayang kepada Ibumu tak perlu pengakuan dari orang lain, cukup Tuhan, Kamu dan Ibumu saja yang mengetahuinya.

Selamat Hari Ibu untuk seluruh ibu dan para calon ibu di mana pun kalian berada. Tanpamu, Kami bukanlah siapa-siapa dan bukan apa-apa ūüėä

 

Depok, 22 Desember 2017

Ruli Khoiriyah N

ETIKA MENYEBARKAN INFORMASI DI MEDIA SOSIAL

Baru-baru ini warganet dihebohkan dengan kasus pendampratan yang terjadi pada salah satu selebriti Indonesia oleh anak dari pihak pria yang berselingkuh. Perselingkuhan pada dasarnya merupakan permasalahan keluarga atau internal dan bukan konsumsi publik. Namun, karena terjadi pada salah seorang public figure, tidak heran kalau cepat menyebar luas di media.

Kejadian itu terjadi di sebuah pusat perbelanjaan yang pastinya terdapat banyak orang. Di era media sosial (medsos) seperti saat ini, masyarakat cenderung lebih senang untuk mengabadikan suatu momen untuk mengunggahnya di medsos dari pada langsung menolong atau melerai.

Seperti pada kasus tersebut, ada yang merekam kejadian saat terjadi pelabrakan tersebut, lalu menyebarkannya di media sosial. Seperti yang kita ketahui, apapun yang sudah masuk ke internet, terlebih medsos, akan sangat mudah sekali tersebar. Yang menjadi pertanyaan adalah, adakah etika dalam menyebarkan informasi di medsos? Jawabnya, tentu ada! Berikut akan sedikit kami bahas.

Karena medsos kini bukan hanya sekadar tempat untuk menjalin komunikasi dan pertemanan, melainkan menjadi tempat untuk bertukar informasi. Alangkah baiknya jika sebelum menyebarkan informasi, perhatikan beberapa etika-etika berikut ini.

  1. Pastikan kebenaran dari informasi tersebut

Sebelum menyebarkan informasi, ada baiknya untuk mengonfirmasi kebenaran dari informasi tersebut terlebih dahulu. Jangan sampai Kita menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam penyebaran berita hoaks.

Hoaks_a

  1. Pastikan tidak merugikan salah satu pihak

Pastikan bahwa apa yang akan kita bagikan nanti tidak merugikan salah satu pihak atau berat sebelah. Misalnya, aib atau mengandung fitnah yang bisa berdampak buruk bagi salah satu pihak.

timbangan

 

  1. Pertimbangkan dampak apa saja yang ditimbulkan

Di medsos, kita bebas untuk mengunggah apa pun sesuka kita, tapi bukan berarti tanpa batasan. Kita juga harus mempertimbangkan dampak apa sajt yang terjadi terjadi setelah mengunggah konten tersebut. Lebih banyak positif atau negatifnya.

jempol

 

  1. Tidak mengandung unsur yang dilarang dalam UU ITE

Saat ini di Indonesia sudah memiliki UU ITE, yang dapat memidanakan suatu tindakan yang terbukti melakukan pencemaran nama baik dan sebagainya yang dilakukan di dunia maya. Sebaiknya apabila ingin membagikan suatu informasi, perhatikan apakah mengandung unsur yang dilarang dalam UU ITE atau tidak.

uu ite

 

Semoga setelah mengetahui beberapa etika dalam menyebarkan informasi di medsos, Kita menjadi semakin bijak dalam menggunakan medsos. Kita tentu tidak ingin kan, konten yang Kita unggah di medsos menjadi boomerang untuk diri Kita sendiri. Ayo, bijak bermedsos!

Sumber :

https://id.techinasia.com/etika-menyebarkan-informasi-media-sosial

http://tekno.kompas.com/read/2012/06/28/04005080/etika.menyebar.informasi.di.jejaring.sosial

Bagaimana Membuat Suasana Kerja yang Menyenangkan?

Pernah ngerasa jenuh saat berada di tempat kerja? Itu hal yang wajar! Lingkungan kerja memang sangat berpengaruh dengan mood dan kinerja seseorang.

Bagaimana bisa? 

Sebagai contoh, apabila Kamu memiliki lingkungan kerja yang asyik, teman-teman menyenangkan, atasan yang ramah, secara tidak langsung akan mempengaruhi mood-mu dalam bekerja. Seberat apapun pekerjaanmu, selelah apapun dirimu, semua akan terasa menyenangkan. Ide-ide baru dapat dengan mudah bermunculan, Kamu akan merasa sangat produktif menghasilkan karya-karya baru. Itu karena Kamu menikmati dan merasa nyaman berada di sana.

Namun jika sebaliknya, jika di tempat kerjamu terdapat ‘aroma’ persaingan yang tak sehat, teman-temanmu pun tidak¬†asyik¬†untuk diajak bekerja sama. Boro-boro dapat tercipta ide-ide baru, membangkitkan¬†mood¬†untuk berangkat ke tempat kerjapun sulit menurutku. Seperti tidak ada gairah untuk memulai hari, karena harus bertemu dengan orang-orang yang tak Kita sukai.

Bagaimana cara menciptakan suasana kerja yang nyaman?

Pertama harus dimulai dari diri sendiri, apa yang sudah Kamu lakukan untuk menciptakan suasana kerja yang nyaman? Mencairkan suasana dengan sedikit melemparkan lelucon-lelucon lucu, kah? Atau memulai dengan obrolan ringan dengan rekan kerjamu.

Selain itu, biasakan menggunakan tiga kata ‘sakti’ ini, “tolong”, “terima kasih” dan “maaf”. Apabila ingin meminta bantuan dengan rekan kerja kalian, biasakan untuk menggunakan kata “tolong”, setelahnya jangan lupa ucapkan “terima kasih”. Memang simpel, namun sering terlupakan. Dan jangan malu untuk mengucapkan kata “maaf” apabila membuat kesalahan, sekecil apapun itu.

Dengan mengucapkan tiga kata ‘sakti’ itu, rekan kerjamu akan merasa lebih dihargai. Ini akan membuat suasana kerja menjadi menyenangkan.

Lalu apabila ada rekanmu yang kelakuannya kurang menyenangkan, apa yang harus dilakukan? 

Selagi Ia tidak secara langsung ‘menyentuhmu’ dalam artian mengusik pribadimu, biarkan saja, tak usah dihiraukan. Kecuali Ia sudah ‘menyerang’ pribadimu, Kamu wajib untuk membela diri, dalam arti meluruskan permasalahan secepatnya. Karena kalau dibiarkan berlarut-larut, kekesalanmu terhadapnya akan memuncak, namun Ia tidak mengetahuinya dan tertap berperilaku seolah tidak ada masalah apa-apa.

Selain itu, dari sekian banyak rekan kerja yang kurang menyenangkan (menurutmu), pasti ada satu ataupun dua orang yang bisa membuatmu merasa nyaman. Entah dari obrolannya yang nyambung, sifatnya yang menyenangkan, atau karena faktor lain. Jangan membuang energimu untuk menghadapi orang-orang yang tak menyukaimu, lebih baik simpan energi positif itu untuk melakukan hal-hal produktif lainnya.

Karena Kamu tidak bisa membuat semua orang untuk menyukaimu, Kamu hanya bisa melakukan yang terbaik agar tidak membuat Mereka menjadi benci terhadapmu. Perkara Ia bisa menerima atau tidak, itu semua sudah di luar kendalimu.

Setidaknya Kamu tidak pernah mengusik orang lain, itu kunci utamanya. Jangan mengusik apabila tidak ingin diusik.